Tampilkan postingan dengan label Bukan sekedar Mythology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan sekedar Mythology. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Su Daji dan kisahnya

Ilustrasi Su Daji sebagai Siluman Rubah betina berekor sembilan Karya Katsushika Hokusai


Su Daji (蘇妲己), apakah benar dia merupakan siluman rubah betina berekor sembilan (九尾狐) ? Apakah benar dia seorang penyihir wanita? atau justru dia hanya seorang gadis baik-baik dengan nasib yang nahas. Ditawan oleh seorang penguasa zalim, hingga berakhir hidupnya sebagai korban eksekusi atas nama perebutan kekuasaan dan kemudian menjadi simbol atas runtuhnya suatu dinasti kesukuan?

Kamis, 27 September 2012

Moon Cake Festival



Festival Kue Bulan disebut juga perayaan musim gugur atau Perayaan Zhongqiu, merupakan salah satu bentuk perayaan musim panen, yang dirayakan oleh kaum Imigran Tiongkok dan Vietnam.Penjelasan mengenai perayaan ini ditemukan pada kitab-kitab dinasty Zhou yang telah berusia kurang lebih 3000 tahun.Perayaan ini kemudian mulai populer sejak jaman pemerintahan dinasti Tang.

Festival ini dirayakan setiap tanggal 15 pada bulan delapan menurut sistem penanggalan tiongkok (biasanya jatuh pada bulan September atau oktober pada penanggalan umum).Pada tahun 2006 pemerintah Tiongkok telah menyatakan festival ini sebagai salah satu peninggalan budaya leluhur yang wajib dilestarikan, dan untuk selanjutnya menjadi hari libur nasional bagi penduduk Republik Rakyat Cina maupun Taiwan.

Minggu, 29 April 2012

Tian Shang Shen Mu




Tian Shang Shen Mu (天上聖母) dikenal juga dengan sebutan Ma Zu, Ma Zu Po atau Tian Hou (ratu langit). merupakan dewi pelindung bagi para pelaut.Beliau dilahirkan di di Pulau Mei Zhou yang terletak didekat Pu Tian daerah Fujian.pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara dengan nama Liem Mu Niang.

Sejak kecil Liem Mu Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia tujuh tahun, beliau dikatakan telah menguasai ilmu astronomi. Sanggup membaca peredaran cuaca dengan baik, mengetahui kapan datangnya hujan, dan mampu menghitung lama badai yang akan melanda lautan. keahliannya ini kemudian digunakan oleh para pelaut yang bermukim disekitar tempat tinggalnya,untuk menentukan waktu yang baik ketika pergi mencari ikan, serta menghindari badai demi keselamatan nyawanya.

Liem Mu Niang juga dikenal karena keahliannya dalam bidang pengobatan,konon dia mempelajari semua kepandaiannya ini dari kitab yang pernah diberikan oleh maha dewa Lao Tzu. Beliau mampu menawarkan segala penyakit layaknya Mazu, tokoh tabib legendaris dari dinasti Tang.Demi penghormatan atas bakatnya ini, masyarakat sekitar kemudian memberinya gelar sebagai ling nü (gadis mukjijat), long nü (gadis naga) dan shen gu (bibi yang sakti).

Suatu hari Liem Mu Niang pergi berlayar menemani ayahandanya, namun malang kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan hingga karam di tengah lautan membuat kedua ayah dan anak itupun tewas bersama-sama.

Biksu agung dari hakka dan chaozhou



Biksu Dafeng lahir di kota Wenzhou, propinsi Zhejiang pada tahun 1039 (pada masa kerajaan Song) dengan nama Lin Ling´e. Pada tahun 1095 setelah berhasil lulus dari ujian kenegaraan,beliau diangkat menjadi kepala distrik Shaoxing. Namun karena melihat sifat culas para birokrat dan tidak bersedia turut campur dalam budaya korupsi yang merajalela. Tidak lama kemudian beliau meninggalkan jabatannya serta memutuskan untuk menjalani laku sebagai seorang biksu pengelana.

Sekitar tahun 1120, beliau tiba di desa Heping yang terletak didaerah Chaozhou (Tiocu) dan menetap di sebuah kuil yang telah lama ditelantarkan. Selain memperbaiki kuil biksu Dafeng juga membuka praktek pengobatan secara cuma-cuma. Alkisah pada suatu musim pancaroba, wilayah itu terserang wabah kolera. Banyak penduduk yang meninggal akibat wabah ini. Biksu Dafeng yang ahli pengobatan dan epidemi segera menyadari, bahwa wabah ini timbul sebagai akibat dari membusuknya jenazah-jenazah yang tidak dikuburkan dengan baik dan rapat.

Dewa Dari Cadas Air Jernih



Qing Shui Zu Shi (清水祖師) atau Co Su Kong berasal dari propinsi Hok Kian, kabupaten Yong Chun. Beliau lahir pada tanggal 6 bulan 11 menurut penanggalan Tiongkok, di tahun 1045 M, dalam masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong dari dinasti Song, nama aslinya adalah Chen Zhao Ying (陳昭應)
Konon sejak usia kanak-kanak, beliau telah disiapkan oleh kedua orangtua-nya agar menjalani kehidupan sebagai seorang biksu. Beliau kemudian berguru pada seorang biksu buddha beraliran Zen bernama Min Song (明松禪師) yang tinggal digunung Da Jing Shan (大靜山) Selain mendalami filsafat buddha, beliau juga mempelajari ilmu Astronomi dan Feng Shui selama kurang lebih 3 tahun hingga ditasbihkan menjadi seorang biksu dengan nama Buddha Pu Zu.


Setelah turun gunung biksu Pu Zu berkelana hingga tiba didaerah antara Anxi dan Xiamen. Di tempat itu berdiri sebuah gua yang didepannya juga terdapat sebuah mata air yang jernih dan dikenal dengan sebutan Qing Shui Yan (Cadas air jernih). Beliau-pun memutuskan untuk tinggal disini sebagai pertapa sambil menjalankan dharma.

Raja & Permaisuri langit



Konsep penyembahan terhadap Raja Pualam(玉帝) dan Permaisuri langit dimulai sejak dinasti Song di jaman pemerintahan kaisar Zhenzong (真宗). Kaisar saat itu, mengalami penurunan popularitas dan ketidak percayaan dari rakyat. Demi mempertahankan kekuasaan dan dinastinya, sang kaisar menyatakan bahwa dia memang tengah memegang mandat langit secara sah dan mampu berkomunikasi dengan para dewa. sang Kaisar kemudian dibantu oleh para menteri dan sejumlah sastrawan merumuskan konsep baru akan peran dewa –dewi dalam ajaran Taoisme, yang merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat pada masa itu.

Pada awalnya paham aliran Tao meski mengenal mitologi para dewa, tidak pernah mengenal struktur kerajaan semesta. Sebab hal tentang mengatur kerajaan dan menjalankan pemerintahan memang tidak pernah menjadi isu penting dalam filsafat itu sendiri. Aliran Tao lebih menitikberatkan pada pembinaan dan usaha pribadi para dewa –dewi demi mencapai suatu kesempurnaan dan pencerahan.

Sebaliknya dalam filsuf ajaran Khonghucu yang banyak dianut oleh kaum bangsawan dan raja (kalangan istana) sejak jaman dinasti Han. Subyek pemerintahan menjadi aspek penting yang berperan sebagai salah satu unsur untuk menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia. (anak dengan orangtua, murid dengan guru dan rakyat dengan pemerintah).

Subyek pemerintahan inilah yang pada akhirnya dimasukkan kedalam mitologi tiongkok dan ajaran Tao, lewat asimilasi yang damai melalui karya-karya novel para sastrawan di jaman itu. Tata cara pemerintahan dan bernegara yang tentu saja telah dipengaruhi sedikit oleh unsur filsafat Buddha (suatu filsafat yang juga mulai berkembang dijaman itu) diterjemahkan dalam bentuk konsep kerajaan semesta.

Saint Legend



Kedelapan dewata (八仙), merupakan sekelompok dewa dan dewi dalam kisah mitologi tiongkok. Sebagian ahli taoisme berpendapat bahwa mereka sama tingkatannya dengan dewa-dewa di kahyangan lainnya, namun ada juga yang berpendapat sebaliknya dan tetap menganggap bahwa kedelapan dewata, masih berada di tingkatan yang lebih rendah. Setingkat dengan tingkatan para peri dan malaikat dalam legenda barat. Pendapat yang terakhir muncul, lantaran dalam kisah-kisah mengenai kedelapan dewata. Selalu diceritakan bahwa kedelapan dewa dan dewi ini masih memiliki keterikatan dengan kehidupan duniawi, gemar berpesta dan meminum arak.

kedelapan dewata ini tinggal di gugusan lima pulau misterius disekitar gunung suci Penglai (蓬莱山). Konon hanya di kelima gugusan pulau itulah pohon –pohon buah persik yang bibitnya ditanam sendiri oleh Wang Mu Niang-Niang (瑤池元君西王母) mampu tumbuh dengan baik. Kedelapan dewata sebenarnya bertugas menjaga keasrian taman buah persik ini, namun seringkali mereka meninggalkan pulau secara diam-diam demi mengunjungi dunia ramai.
Kedelapan dewa terdiri dari:

on kaka kabi sanmaei sowaka



Kisah awal tentang Kṣitigarbha atau Dìzàng Wáng Púsà (地藏王菩薩),  tercatat dalam sutra janji suci Ksitigrabha Bodhisattva . dalam sutra ini dijelaskan bahwa pada suatu waktu di masa lalu, sebelum menjadi seorang Bodhisattva, beliau terlahir sebagai seorang gadis miskin, dari seorang ibu yang tidak bermoral.  Setelah kematian ibunya, sang gadis kemudian menjual semua hartanya yang sedikit, dan berkelana ke seluruh penjuru dunia mencari guru-guru spiritual, demi menemukan cara untuk membebaskan jiwa ibunya dari jurang siksa neraka.

Sang Buddha merasa takjub dengan usaha dan bakti sang Gadis, beliau-pun lantas berkenan menolong jiwa ibu sang Gadis yang tengah menjalani siksa di alam neraka agar dapat segera berinkarnasi. Konon bakti sang Gadis dianggap telah mampu membebaskan ibunya dari alam neraka.

Sang Buddha kemudian mengajak sang Gadis untuk berkeliling di neraka. Trenyuh melihat penderitaan segala jiwa-jiwa yang tersiksa dalam neraka, sang Gadis berjanji akan senantiasa mendoakan dan membimbing seluruh penghuni neraka agar mereka dapat segera berinkarnasi. Sang Gadis kemudian memutuskan untuk tinggal di dalam neraka sampai sang Buddha suci Maitreya berkenan untuk berinkarnasi kedunia, demi menyelamatkan semua makhluk, bahkan dia berjanji tidak akan menjadi Buddha (sempurna) sebelum alam neraka kosong.

Dewa Segala Kemakmuran & Limpahan Jasa



Pada masa kekuasaan Dinasti Zhou pada masa pemerintahan raja Wu dari dinasti Zhou, hidup seorang tuan tanah yang bernama Thio Hok Tik (Zhang Fu De), sang Tuan tanah dikenal memiliki sifat yang sangat mulia lagi berbudi. Meski merupakan orang terkaya di wilayah itu, dia senantiasa bersikap ramah dan bahkan seringkali bersedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Tuan tanah yang baik hati ini kemudian diangkat oleh kerajaan menjadi Pejabat urusan pajak.  Jabatan barunya ini tidak lantas menjadikan sang Tuan tanah menjadi sombong dan tamak, ia justru semakin royal dalam mendistribusikan harta dan kekayaannya demi kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

Konon daerah tempat Zhang Fu De menjabat, dikenal sebagai lumbung pertanian dengan tanah yang subur. Setiap kali tiba musim panen, hasilnya akan selalu melimpah ruah. Sampai suatu ketika, terjadi serangan hama yang berkepanjangan di tempat itu, semua petani mengalami gagal panen dan ancaman kelaparan mulai menghantui seluruh penduduk.  Anehnya sang Tuan Tanah tetap memiliki persediaan beras bahkan masih sanggup membagikan persediaannya  itu kepada orang-orang yang terancam kelaparan.

Ternyata selama mengalami  masa-masa panen yang melimpah ruah, Tuan Tanah Zhang Fu De selalu menyisihkan sebagian dari hasil panennya dan menyimpannya kedalam gudang. Tidak menjual atau menikmati semuanya sekaligus, ia selalu berpikir jauh kedepan,  bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan buruk, dan benarlah ketika panen tahun itu gagal, ia masih memiliki cadangan beras (makanan) yang cukup untuk menghidupinya bersama rakyatnya.

Confusius



Kong Qiu (孔丘) terlahir dengan nama Zhong Ni (仲尼) lazimnya, disebut dalam literatur barat sebagai Confusius. Seorang Filsuf dan aktivist Sosial, dikenal sebagai pendiri sekolah /rumah pendidikan “sekolah untuk para Pemikir” (儒家) serta penyebar ajaran etika konfusianisme. lahir pada tahun 551 SM, di kota Qufu , wilayah Provinsi Shandong.

Cerita kelahirannya banyak diliputi dengan mitos, dongeng dan legenda. Dimulai dari kisah Ibu-nya yang konon sebelum melahirkan Zhong Ni ,pernah mendapatkan sebuah kalung batu giok dari seekor Killin sakti di bukit Qiu, hal ini menyimbolkan bahwa langit berkenan memberikan anugerah kepada sang calon anak yang dikandung untuk menjadi orang besar di kemudian hari. Konon pada hari kelahiran beliau cuaca juga mendadak berubah sempurna lantaran kehadiran para dewa-dewi dalam mitologi Tiongkok yang ingin memberikan selamat kepada keluarganya.

Faktanya, masa kecil Kong Qiu justru tidak bisa dikatakan mewah dan cenderung memprihatinkan, Ayahnya yang pensiunan seorang perwira kerajaan Lu, meninggal akibat sakit tua , ketika beliau kira-kira berusia tiga tahun. Ibunya yang meski berasal dari golongan bangsawan, justru harus hidup miskin lantaran semasa hidup suaminya telah menghabiskan harta kekayaan mereka. Untunglah, kakek-nenek beliau dari pihak ibu masih menyayangi cucunya merekalah yang kemudian membiayai pendidikan dasar Kong Qiu.


Meskipun cerdas, namun karena miskin dan tidak memiliki koneksi dengan penguasa, di masa mudanya Kong Qiu hanya bekerja sebagai pencatat kas pada sebuah keluarga yang kaya raya di kota itu. Beliau juga sempat menjadi petani dan peternak hingga kemudian menikah dan memiliki seorang putra bernama Pik Gi.

Xuan Tian Shang Di



Dewa Xuan Tian Shang Di () merupakan salah satu dewa penting, dalam ritual pemujaan kepercayaan Tao. Dikisahkan beliau merupakan representasi dari kura-kura hitam (北方玄武). Salah satu dari empat binatang sakral penyangga klenteng ,yang juga dipercaya sebagai penguasa dunia bagian utara dan memiliki kemampuan untuk memperpanjang umur seseorang. 

Konon sebelum menjadi dewa beliau bernama Xuan Wu (玄武) hidup di masa pemerintahan Kaisar kuning (raja legenda, sebelum dinasti Xia berdiri). Merupakan seorang pertapa yang sangat sakti. Demi memperoleh jiwa yang suci dan menjadi seorang dewata. Beliau rela membelah perutnya sendiri agar dapat mencuci lambung dan ususnya pada sebuah sungai. Keteguhan hatinya ini, menarik perhatian langit yang kemudian mengangkatnya menjadi raja penguasa wilayah utara. Dengan gelar Xuan Tian Shang Di (玄天上帝) yang berarti Raja maha sakti yang misterius. Xuan Tian Shang Di (玄天上帝) dikisahkan menguasai kelima elemen (五行) sekaligus dan cakap dalam menggunakan ilmu sihir. 

Awalnya, beliau dipuja sebagai dewa pelindung bagi para ahli –ahli ilmu silat serta keselamatan anak-anak. Hingga pada masa Dinasti Ming, Dewa Xuan Tian Shang Di (玄天上帝) diberi gelar sebagai dewa pendiri dinasti. Sebab dipercaya sang Dewa telah menolong Zhu Yuan Zhang (朱元璋) yang pernah mencari perlindungan di gunung Wudang ( 武當山 ) dalam usahanya mendirikan dinasti itu. Hal ini lantas meningkatkan jumlah pemujaan terhadap dewa tersebut.
Seorang sastrawan di jaman itu, Yu Xiang Tou menulis sebuah novel yang menjadikan Dewa Xuan Tian Shang Di (玄天上帝) sebagai tokoh utamanya. Novel ini berjudul catatan perjalanan ke Utara (Bei You Ji) / Pak Yu Ki. 

33 Wujud Dewi Guan Yin



1.  Dewi Kwan Im menggenggam ranting yang Liu. (楊栁觀音)

Manifestasi ini mendeskripsikan tentang kemampuan dewi Kwan Im dalam memberikan karunia kesembuhan illahi. Hal ini mengajarkan pada manusia bahwa kesembuhan dapat diperoleh melalui jalur gaib/ illahi.

2. Dewi Kwan Im berdiri diatas kepala naga. (龍頭觀音)
Manifestasi ini mendeskripsikan bahwa kekuatan Dewi Kwan Im dalam membebaskan umat manusia dari segala derita sungguh tak terbatas. Hal ini mengajarkan pada manusia agar selalu berbuat baik pada sesamanya agar selalu memperoleh limpahan keselamatan dan keberuntungan.

3. Dewi Kwan Im menggenggam Kitab Sutra Prajnaparamita . (持經觀音 )

Manifestasi ini mendeskripsikan tentang kebijaksanaan serta pengertian terdalam yang diajarkan oleh dewi Kwan Im, bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia hanya bersifat sementara. Keabadian baru bisa dicapai oleh seseorang jika dia senantiasa mempelajari serta mendalami tentang seni kearifan jiwa.

4. Dewi Kwan Im dalam cahaya yang terang menderang. (圓光觀音)
Manifestasi ini menunjukkan tentang arti cahaya untuk menerangi segala yang gelap dan menarik unsur keberuntungan. Manusia diharapkan selalu berbuat baik agar jiwanya kian bercahaya, juga menghormati unsur api yang merupakan perwujudan dari cahaya.

5. Dewi Kwan Im dengan wajah bahagia. (遊戲觀音)
Manifestasi ini menyatakan tentang sifat-sifat baik Dewi Kwan Im yang akan senantiasa menyertai manusia dalam usaha meraih  kebahagiaan, hal ini diharapkan mampu membuat manusia semakin terpacu dalam usaha membina diri untuk mencapai kesempurnaan.

Rabu, 25 April 2012

Sekilas Sejarah Klenteng Hwie Ing Kiong




Awalnya terdapat sebuah klenteng pemujaan sederhana atas nama YM Ma Zu Thien Shang Shen Mu yang terletak di sebelah barat sungai Madiun (Samping jembatan sebelah barat), yang didirikan oleh para perantauan Tionghoa generasi pertama yang bermukim di wilayah Madiun. Hingga kini tahun pendirian Klenteng pertama di wilayah Madiun ini tidak diketahui secara pasti. Hanya terdapat sebuah catatan dan bukti foto bahwa seorang tokoh Tionghoa bernama Tan Bik Swat bersama – sama kawan lainnya pernah membawa rupang Y.M Ma Zu Thien shang Shen Mu setinggi 97 CM langsung dari negeri tiongkok guna disembahyangi di klenteng ini.